Popular Post :

Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya

Kamis, 14 April 2011 | 1komentar

Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya


Beberapa Universitas Islam di Indonesia memfasilitasi para mahasiswa baru dengan gedung asrama atau pesantren mahasiswa. Salah satu diantaranya adalah pesantren mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Bertempat di Jl. Jendral Ahmad Yani 117, kompleks kampus IAIN Sunan Ampel, yang disebut Rusunawa (Rumah susun sederhana dan mewah), depan gedung Jawa Pos.

Pesantren IAIN Sunan Ampel bertujuan untuk mendidik mahasiswa agar memiliki kemampuan bahasa Arab dan Inggris, menanamkan akidah, mengembangkan ilmu, amal dan akhlak yang mulia serta membina mahasiswa yang sudah atau sedang menghapal al-Qur’an. Tahun 2010, pesantren memiliki ratusan ribu mahasantri yang terdiri dari kurang lebih 300 mahasiswa dan 300 mahasiswi..

Mahasantri terdiri dari mahasiswa reguler dan khusus. Mahasiswa/i reguler direkrut dari setiap fakultas secara proporsional, sedang mahasiswa khusus adalah mereka yang sedang mengikuti program pembelajaran di jurusan Tafsir Hadits fakultas Ushuluddin, Ahwal al-Syakhsyiah fakultas Syari’ah, Sejarah dan Peradaban Islam fakultas Adab serta Pengembangan Masyarakat Islam fakultas Dakwah IAIN sunan Ampel Surabaya.

Rekruitmen mahasiswa baik reguler maupun khusus didasarkan pada salah satu kualifikasi berikut: 1) Hasil tes masuk (tes kemampuan Bahasa Arab dan Inggris), 2) Hafalan al-Quran (sudah pernah atau belum), 3) Hasil seleksi kelas unggulan. Mahasiswa yang diterima, memiliki hak tinggal di Pesantren Mahasiswa dan harus menyatakan kesediaan mengikuti peraturan dan kegiatan yang ditetapkan.

Tahun ini, mahasiswa baru yang mendaftar di pesantren sekitar 100 orang, selebihnya tinggal di kost-kost area sekitar kampus. Kelebihan pesantren ini tentu saja pada kualitas kegiatannya, terdapat jadwal khusus untuk pendalaman pelajaran Islam setiap harinya, berusaha aktif berkomunikasi dalam bahasa Arab dan Inggris, dan pembinaan takhfid (hafalan) serta tahsin (kualitas bacaan) al-Qur’an.

Di tengah degradasi moral yang terjadi di Negara Indonesia, semoga lulusan mahasantri pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya, mampu menjadi teladan atau contoh generasi penerus bangsa yang mempunyai budi pekerti tinggi, tidak berbuat korupsi dan mampu membangun, mengharumkan serta membanggakan masa depan Indonesia. Semoga.
Continue Reading

Pemetaan Masyarakat

Kamis, 17 Maret 2011 | 0 komentar

Pemetaan Masyarakat oleh tim Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) dalam konteks penjalinan hubungan kerjasama antara jurusan dengan masyarakat dan kelompok masyarakat.

Survey Lokasi Kampung Hijau Surabaya 2010
Siklus Pemanfaatan Sampah di Kampung Hijau
Continue Reading

JAGA JAI JAGA KEMANUSIAAN

Minggu, 20 Februari 2011 | 0 komentar


Chabib  Musthofa,S.Sos.I,M.Si, 
Dosen Jurusan PMI
KERUKUNAN antarumat beragama di negeri ini kembali diguncang ketika terjadi kekerasan di Peundeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Banten, Minggu pagi (6/2). Penyerbuan oleh sekitar 2.000 orang kepada beberapa keluarga jamaah Ahmadiyah tersebut ditengarai lebih dipicu motif keagamaan, bukan kriminal. Insiden tersebut telah menelan tiga korban jiwa dan beberapa lainnya menderita luka, selain kerusakan fisik di lokasi. Sangat tepat jika pemerintah kemudian menegaskan bahwa kekerasan di Umbulan tersebut merupakan tindak kriminal dan hams ditangani secara hukum.

Namun, menelaah persoalan ini tidak bisa dipisahkan dari pertimbangan keagamaan. Mengingat, fakta menu njukkan bahwa korban adalah jamaah Ahmadiyah dan pelaku penyerangan adalah masyarakat yang merasaterganggu oleh aklivilas jamaah Ahmadiyah. Bentrokan antara Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan masyarakat bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya terjadi beberapa konflik fisik antara JAI dan masyarakat sepertiyang terjadi di Bogor, Kuningan, Makassar, dan Lombok. Mungkin, ke depan juga masih terjadi konflik fisik serupa yang melibatkan JAI karena isu Ahmadiyah masih debatable bagi masyarakat Indonesia.


Antara Privat dan Publik
Sejak awal, bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk bisa meletakkan posisi agama dalam kehi-dupan secara individual maupun kolekuf. Analisis Jose Casanova tentang wilayah privat dan publik memberikan penawaran bagaimana sebenarnya meletakkan agama dalam kehidupan sosial. Agama, di satu sisi, memiliki sistem kepercayaan (system of believe) yang menempati ruang khusus di dalam benak masing-masing pemeluknya. Tidak ada yang dapat melihat, mendengar, dan mampu mengoreksi otentisitas keyakinan tiap anak manusia selain Tuhan. Pada posisi inilah kemudian keyakinan terhadap agama menjadi hakmutlak tiap manusia dan menegasikan campur tangan pihak luar, termasuk negara.

Ada pun perilaku keagamaan yang tampak seperti menjalankain perintah dan menjauhi larangan Tuhan merupakan implementasi keyakinan tersebut. Inilah indikator yang biasanya dijadikan ukuran tentang kualitas sebuah keyakinan atau keimanan seseorang. Al-dlahir yadullu ala al-bathin (kondisi lahir menandakan kondisi batin) mungkin tepat, namun tidak sepenuhnya bisa digunakan dalam melihat keimanan seseorang. Pada kondisi ekstrem, privatisasi agama bermuara pada sekularisasi yang banyak ditentang masyarakat Indonesia.
Agama, di sisi lain, juga memiliki sistem perilaku (system of behavior) yang dijadikan panduan pemeluknya untuk menaati agama yang diyakini. Sistem tingkah laku keagamaan itu dapat dikatakan telah mengalami modifikasi dari manusia berkaitan dengan adaptasi mereka terhadap ruang dan waktu di mana agama dipraktikkan. Hasil modifikasi aktivitas keagamaan tersebut mengalami perubahan dan perkem-bangan. Hanya satu yang tidak berubah, yaitu bahwa perilaku keagamaan itu harus disandarkan pada keyakinan mu-tlak kepada Tuhan dan semangat ibadah kepadaNya, bukan yang lain.
Pada konteks inilah kemudian agama memerlukan mekanisme aturan kolektif dalam ruang publik yang dapat memastikan dirinya untuk terlindungi sekaligus tidak menjadi pemberangus kemanusiaan karena banyaknya variasi praktik keagamaan. Negara kemudian menjadi pemegang aturan agama dalam ranah publik ini. Namun, ketika dominasi negara sangat kuat dalam urusan agama, yang kemudian berkembang adalah teokrasi.

Menjaga Kemanusiaan
Pendapat bahwa Islam merupakan agama yang dirugikan oleh Ahmadiyah tidak sepenuhnya benar. Sebab, Islam tetaplah Islam dan tidak terpengaruh apa pun. Fenomena Ahmadiyah sebenarnya sama dengan kemunculan berbagai sekte seperti Syiah, Muktazilah, dan Khawarij dalam khazanah peradaban Islam. Itu pun tidak merusak kredibilitas Islam sebagai agama, bahkan memberikan banyak ruang pilihan keberagamaan yang fleksibel.
Bagaimanapun, Islam adalah rahmatan lil-alamin yang mampu membawa keselamatan bukan hanya bagi pemeluknya, namun juga pemeluk agama lain. Lima prinsip penentuan hukum Islam (fikih) menjadi bukti betapa Islam menghargai keyakinan dan nyawa manusia. Islam menganjurkan umatnya untuk menjaga agama (hifdz al-din), menjaga jiwa (hifdz al-nafs), menjaga akal (hifdz al-aqt), menjaga keturunan (hifdz al-nasl), dan menjaga harta (hifdz al-mal).

Karena itu, bagi tiap muslim, berlaku kode etik untuk melestarikan agama mulia tersebut dengan panduan prinsip itu dalam kehidupan sehari-hari. Ironis jika nyawa manusia dihilangkan secara sengaja dengan alasan menegakkan Islam. Ironis juga bila Ahmadiyah tetap mengaku muslim namun doktrin teologisnya menyimpang dari enam rukun iman dalam Islam.

Suratkeputusanbersama (SKB) antara Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri, dan Kejaksaan Agung tentang Ahmadiyah merupakan upaya negara untuk menjaga kerukunan pemeluk agama. Persoalannya, SKB itu juga kerap menjadi dasar bagi tindakan anarkistis terhadap JAI karena pemerintah ditengarai tidak mampu mengimplementasikannya secara konsisten. JAI bersikukuh di balik SKB tersebut bahwa dirinya merupakan bagian dari Islam, bukan agama selain Islam. Jadilah SKB Ahmadiyah ditinjau kembali.

Peninjauan kembali terhadap SKB tentang IAi itu tidak serta merta akan bisa menghilangkan potensl kekarasan berbau Ahmadiyah. Sebab, penafsiran keabsahan doktrin agama tersebut tidak ditentukan negara, tapi dari dalam diri individu yang beragama itu. Negara bukanlah subjek yang tepat untuk menjustifikasi otentisitas sebuah agama karena itu bukan otoritasnya. Namun, negara juga tidak bisa berdiam diri membiarkan anarkisme terjadi.

Karena itu, sebenarnya peninjauan kembali SKB Ahmadiyah tidak dilakukan untuk mempelajari keabsahan doktrin Ahmadiyah sebagai "agama" atau Sebagai "sekte" namun lebih pada upaya membuat mekanisme aturan hidup sebagai warga negara Indonesia yang sama di hadapan Pancasila dan hukum yang berlaku. Jadi, peninjauan SKB Ahmadiyah bukan untuk menjaga agama, tapi menjaga manusia yang beragama itu. Wallahu a'lam.

Artikel ini telah dimuat di Jawa Pos Selasa tanggal 08 Februari 2011
Sumber Info : http://www.sunan-ampel.ac.id/
Continue Reading

Penerimaan Mahasiswa Baru IAIN Sunan Ampel Surabaya 2011

Jumat, 18 Februari 2011 | 0 komentar


 

JALUR TES
 
Kriteria Peserta
Lulusan SLTA negeri atau swasta semua jurusan berijazah negara (mengikuti Ujian Nasional) atau dari KMI, TMI dan MMI yang diakui setara SLTA oleh Kemendiknas.
 
Syarat Pendaftaran
  1. Menyerahkan copy ijazah SMA-MA, SMK atau yang setara dilegalisir. Jika ijazah belum keluar bisa menyerahkan copy Surat Keterangan Lulus dari sekolah yang telah dilegalisir sebanyak 1 (satu) lembar.
  2. Membayar pendaftaran di Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Pembantu IAIN Sunan Ampel sebesar Rp. 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah).
  3. Menyerahkan kwitansi (lembar II) bukti pembayaran dari BTN.
  4. Menyerahkan foto berwarna ukuran 3 x 4 sebanyak 3 (tiga) lembar.
  5. Mengisi formulir pendaftaran.
  6. Berkas pendaftaran dimasukkan ke dalam stop map warna hijau.
Waktu dan Tempat Pendaftaran 

Gelombang I :
 
Pendaftaran : 2 s.d 27 Mei 2011 (di IAIN Sunan Ampel)
Ujian Tulis dan Lisan : 8 Juni 2011
Pengumuman : 17 Juni 2011
Registrasi : 20 Juni s.d 8 Juli 2011
 
Gelombang II :
 
Pendaftaran : 4 s.d 15 Juli 2011 (di Bag. Akademik Kantor Rektorat)
Ujian Tulis dan Lisan : 19 Juli 2011
Pengumuman : 27 Juli 2011
Registrasi : 28 Juli s.d 12 Agustus 2011

 
Materi Ujian:
• Komponen Bahasa (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris)
• Komponen Pengetahuan Agama & Umum (PAI dan IPS)
• Matematika (bagi yang memilih Jurusan Pendidikan Matematika)
• Ujian Lisan (Tes baca al-Qur’an)


Untuk Lebih Jelasnya. Brosur Pendaftaran Mahasiswa Baru anda bisa Download  dengan Link dibawah ini.

Continue Reading

Maulid Nabi di Tengah Keprihatinan

Kamis, 17 Februari 2011 | 0 komentar

Prof Dr Nur Syam, M.Si,
Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw sekarang ini rasanya agak berbeda dengan peringatan yang sama tahun lalu. Ini tentu saja terkait dengan banyaknya masalah yang dihadapi bangsa Indonesia. Ada masalah yang memang realitasnya seperti itu. Akan tetapi, juga ada masalah yang dikonstruksi di dalam kerangka memberikan citra yang kurang relevan dengan realitas empiris. 



Dewasa ini kita sebagai bangsa sedang memperoleh labeling yang kurang menyenangkan. Ada sejumlah tudingan bahwa di sana-sini terdapat kebohongan publik. Ada kebohongan persoalan kebebasan agama, politik, ekonomi, dan sebagainya. Bahkan, juga ada yang meramalkan, jika kasus-kasus yang mendera bangsa ini tidak ditangani secara serius, akan terjadi kerusuhan sosial berskala besar.




Kita tentu tidak ingin hipotesis tersebut terjadi secara empiris. Kita sebagai bangsa sesungguhnya sudah teruji dalam mengelola kerukunan, harmoni, dan keselamatan. Sebagai bangsa yang besar, indikasi kasarnya adalah jika bangsa ini bisa mengelola perbedaan dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Jika kecerdasan emosional dan spiritual hilang, niscaya banyak persoalan di negeri ini. 



Kita menjadi tersentak dengan kekerasan atas nama agama yang terjadi akhir-akhir ini. Sayangnya, tidak ada yang bertanggung jawab terhadap kasus kekerasan ini. Semua menjadi diam. Andai ada keberanian, seharusnya di antara tokoh lalu ada yang menyatakan bertanggung jawab. Tokoh-tokoh yang menggerakkan kerusuhan juga raib ditelan bumi. Semua menghilang, takut ditangkap aparat. Padahal, jika memang ada keyakinan bahwa yang dilakukannya itu sesuatu yang benar, maka mestinya mereka menghadapinya dengan tegar.




Di dalam konsepsi Jawa dikenal ungkapan tinggal glanggang colong playu. Artinya, orang yang melarikan diri dari gelanggang perjuangan untuk menyelamatkan diri. Tokoh semacam ini biasanya disimbolkan dengan para ksatria Kurawa dalam lakon pewayangan Mahabharata. Semestinya mereka berani menghadapi kenyataan hukum, apalagi yang mereka lakukan berdasar keyakinan agama yang mereka anut. 




Bangsa ini sesungguhnya sedang menderita penyakit mentalitas menerabas. Yaitu, penyakit yang diakibatkan oleh keterkungkungan struktural selama bertahun-tahun. Pada zaman Orde Baru, memang pemerintah sangat ketat dalam mengawasi kelompok mana pun yang bisa melakukan makar. Pemerintah tidak segan melakukan tindakan militeristik untuk menumpas berbagai gerakan yang dianggap sebagai lawan politiknya.




Akan tetapi, pada era Orde Reformasi, semua ingin berebut tampil di permukaan melalui cara instan. Mereka mengatasnamakan apa saja untuk mencapai tujuan. Bisa saja ideologinya berbasis kiri atau kanan dan juga instrumennya yang bervariasi. Ada yang menggunakan medium kesenian, simposium, temu kader, pelatihan, dan demonstrasi. Ada yang menggunakan cara yang santun, ada juga yang menggunakan cara kasar atau bahkan keras. Bahkan ada yang mengatasnamakan agama untuk melakukan tindakan kekerasan.




Padahal, kehadiran Nabi Muhammad Saw sesungguhnya adalah untuk menjadi obor dan pelita di dalam kegelapan. Obor dan pelita itu adalah Islam yang rahmatan lil 'alamin. Islam yang memberi kedamaian bagi seluruh alam. Maka, memperingati Maulid Nabi Muhammad, seyogianya adalah dengan meneladaninya dalam menghias dunia dengan kedamaian, ketenteraman, dan kesejahteraan.




Kita semua tentu berharap dunia yang nirkekerasan. Sebab, sesungguhnya kita jualah yang akan menciptakan dunia ini aman atau tidak. Jika kita mencontoh Nabi Muhammad Saw, sesungguhnya yang harus dilakukan adalah menjadi orang yang mengedepankan dunia nirkekerasan. 




Karena itu, marilah kita teladani Nabi Muhammad Saw di dalam kesabarannya. Penyelesaian masalah bisa dilakukan tanpa kekerasan. Wallahu a'lam bi al shawab.








Sumber : http://www.suarakarya-online.com/



Continue Reading
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. JURUSAN PMI - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger